done!
Wednesday, February 28th, 2007just wanna say a word…
that I really wanna say in this past semester…
done! ^_^
Thank You Allah, and thanks for my family, my parents, my brother,
and all my friends…because of you guys, I’ve a meaningful life…
just wanna say a word…
that I really wanna say in this past semester…
done! ^_^
Thank You Allah, and thanks for my family, my parents, my brother,
and all my friends…because of you guys, I’ve a meaningful life…
4 hari lagi… bismillah ^_^
yosh!! ganbatte ne !!
Hmm… saya jadi berpikir tentang perasaan seseorang pesakitan di hotel prodeo yang sedang menunggu eksekusi hukuman mati. Detik demi detik bergulir, mengalir bagai air. Mendekati hulu waktu yang telah menunggu…
(wew…kok jd puitis gini yak.. :P)
sempurnakan ikhtiarmu tur!
dimulakan dengan bismillah…
diakhiri dengan alhamdulilah…
semoga selalu mendapat rahmat, ridho, dan berkah dari Alloh..
Tiga hari ini, saya memainkan suatu permainan yang seru. Saya teringat masa2 kecil dulu. Saat-saat saya memainkan permainan seru ini tanpa beban.
Alhamdulillah, dengan memaknainya sebagai permainan… tubuh yang lelah dan letih bukan merupakan suatu penghalang.
Apakah permainan itu?
Yup… adalah permainan kucing dan tikus. Dan aku lah yang menjadi kucing.
Terus…siapakah gerangan yang menjadi tikus…??
tidak lain dan tidak bukan… para suhu yang akan menguji ku.
dan yang empunya kuasa untuk menentukan siapa dan kapan…
alhamdulillah hari ini telah selesai…
sayang, tidak sempat aku mengambil gambar lembar permohonan kumal yang ku bawa2 tiga hari ini… sungguh menjadi catatan sejarah tersendiri bagiku.
sampai tabel yang tersedia telah tak sanggup menampung coretan pena..
akhirnya…
tinggal selangkah lagi..
lagi kecil…
yang besar…
yang bisa menjadi gerbang…
ke proses hidup selanjutnya…
hmm… langkah-langkah kecil telah menunggu di balik pintu itu…
bismillah…
sempurnakan ikhtiar…
hidup mempunyai cita-cita. Atau hidup itu ialah cita-cita. Cita-citalah yang menjadikan manusia berjuan mencapai yang lebih sempurna. Manusia tidak mau mencukupkan keadaannya yang ada sekarang saja. Ia bercita-cita ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Sebab itu hanyalah manusialah yang senantiasa beroleh kemajuan; binatang tidak.
Cita-cita bertali dengan harga diri, atau muruah. Tahu harga dirilah yang menyebabkan orang tidak suka melakukan pekerjaan yang hina. Namanya baik dibelinya dengan harga yang sangat mahal, dengan usaha dan tenaga. Kadang-kadang dengan keapyahan hati dan badan. Menjaga langkah agar sampai tertarung. Orang yang mempunyai cita-cita dan nama harum itu lebih kecil jumlahnya daripada manusiayang hanya lahir ke dunia, hidup, makan dan mati.
Orang yang bercita-cita dan tahu harga diri tidak mau mendekati pekerjaan hina yang tiada layak. Karena dia tahu ruginya untuk namanya terlalu banyak. Dia tidak mau menjatuhkan harga itu hanya di dalam waktu yang pendek.
Mutannabi, ahli syair, telah mengarang suatu syair yang mengajak suatu angkatan tengara menempuh peperangan dengan gagah perkasa, tidak mengenal takut. Lebih baik mati di tengah medan dengan pedang di tangan, daripada undur ke belakang. Pada suatu hari dia pun turu berperang. Musuh telah datang dan dia telah terdesak. Dia bermaksud hendak undur ke belakang. Dia rupanya telah lupa syair yang diuacapkannya sendiri bertahun-tahun yang lalu. tiba-tiba terdengar olehnya serdadu di belakangnya menyanyikan syair yang diucapkannya dahulu itu. Tidak pelak lagi, dia tampil ke muka, lebih suka mati di medan perang dengan pedang di tangan daripada undur ke belakang dan lantaran itu dia pun mati terbunuh, menjadi korban dari tahunya akan harga diri dan menebus apa yang pernah diucapkannya.
Orang yang tahu harga diri tidak sombong. Dia rendah hati, mudah dalam pergaulan. Tidak lekas tertawa ketika senang dan tidak lekas marah ketika tersinggung.
Cita-citalah yang memedakan sebagian manusia dari yang sebagiannya. Kita berusaha mencapai cita-cita jadi orang mulia, orang berpangkat, pemimpin, pengarang dan orang alim. Tegasnya menjadi seorang yang terhormat. Kita bercita-cita dan berusaha agar cita-cita tercapai sebelum wafat.
Pemuda haruslah mempunyai cita-cita yang tinggi supaya hidupnya berarti. Apabila cita-cita tercapai, terutama di hari tuanya, dia akan menekur kembali melihat anak-tangga yang dilakuinya dengan tersenyum. Orang tua dan guru mempunyai kewajiban yang besar dalam perkara ini. Mereka mesti menanamkan himmah yang tinggi kepada murid-murid dan pemuda, supaya terciptalah suatu golongan umat yang duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan umat lain.
Himmah yang tinggi berbeda dengan angan-angan yang tinggi; akrena angan-angan yang tinggi itu menyebabkan pemuda suka menggantang asap atau melamun. Dia tidur siang hari di waktu orang lain bekerja keras. Dan berangan-angan hendak membeli mobil model yang paling baru, berangan-angan naik kapal udara ke New York dan bertemu dengan gadis2 Amerika yang cantik, terutama di Hollywood. Akhirnya pemuda itu menjadi bergajul yang tidur di kaki lima tokok orang, lantaran tidak ada rumah tempat tinggal. Dia kembali dari menonton filem yang menceritakan hikayat seorang sopir mobil yang mendapat waris dari pamannya yang mati di asia, lalu dibuangnya mobilnya dan dia kawin dengan seorang gadis, yang paling cantik.
Maka berangan-anganlah dia menjadi seperti orang itu.
Cita-cita membawa kebesaran dn kemuliaan. Angan-angan merusak dan membawa ke jurang kehinaan.
Menurut keterangan Dr.M.Amir, jama pancaroba sebagai sekarang ini, dimana terjadi perobahan masyarakat dari masyaraka lembek kepada masyarakat cepat, dan masuknya gelombang peradaban barat yang tiada tertahan-tahan, ke tanah air kita menyebabkan pemuda-pemudi banyak sedikitnya disinggung oleh perang urat syaraf. Orang Timur, keadaannya masih Timur, terkungkung dan terikat. Padahal masyarakat Barat bebas, menganjurkan hidup nafsi-nafsi, hany bertanggung jawab kepada diri sendiri. Masyarakat Barat menghendaki serba cepat, dinamis, sedang masyarakat timur, lembek, pelan-pelan, statis. Terutama lagi kungkungan kolonial pengaruh bangsa atas bangsa. Semuanya menyebabkan terganggunya otak dan urat syaraf para pemuda kita.
Tanda yang dikatakan Dr. M. Amir ni pernah kita saksikan sendiri. Seorang yan gberusia kira-kira 35 tahun, masuk ke Kantor majalah Pedoman Masyarakat (tahun 1930an) menghantarkan contoh satu iklan yang akan dimuat. Dalam iklan itu diterangkan bahwa siapa yang sudi memakai gambar-gambar (ontwerp) buatannya sendiri, contoh dari rumah-rumah model baru, akan dapat bergaji Rp.1200,-*). sebulan. Tetapi melihat lagak -lagunya, pakaiannya, lekat topinya, celanya, seri mukanya, nampak bahwa orang itu punyakelainan dari orang biasa. Dengan itu terbukti dia berjalan seorang dirinya di jalan ramai. Topinya miring ke muka, bajunya tidak pernah dicuci. cealna pendek. sepatu putih yang tidak dikapur, dan dia masih merasa bahwa kalau gambarnya laku dan dibeli orang, dia akan mendapat gaji Rp.1.20,- (satu rupiah dua puluh sen), mungkin celananya dapat ditukarnya.
Itula pengaruh angan-angan yang tidak lekas diobati dengan cita-cita. Jika penganjur rakyat, terutama dalam kalangan politik dan sosial lekas-lekas menentukan arah yang akan difikirkan olrh pemuda, suatu cita-cita yang tinggi murni, Insya’4JJI penyakit itu tidaklah akan bersimahajalela. Misalnya seperti di Turk, Mesir dan India, para pemuda telah ditentukan kepada satu arah, yaitu mencita-citakan kemuliaan tanah air.
Setelah itu usahakan menghapus pengangguran. Untuk itu, perlu sekali banyak sekolah-sekolah yang mengajarkan seuatu keterampilan. Yaitu pelajaran-pelajaran yang bisa keluar dari sana akan membawa pemuda-pemuda lebih banyak bekerja dari pada merenung.
written by: Prof. Dr. Hamka
taken from: Filsafah Hidup
========================================================================
kesimpulan yang dapat diambil adalah…
lebih baik kita berpanjang cita-cita….
dari pada panjang angan-angan….
semoga bermanfaat
istiqomah tur!!
========================================================================
"Hak orang Islam atas orang islam adalah enam perkara: apabila engkau bertemu dengan dia ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia memanggil hendaklah perkenankan, apabila dia meminta nasehat, hendaklah beri nasehat, apabila dia bersin dengan memuji 4JJI hendaklah memohonkan pula baginya rahmat, apabila dia sakit hendaklah ziarahi dan apabila dia mati hendaklah antarkan mayatnya sampai kubur"
(diriwayatkan oleh Muslim dari pada Abi Hurairah)
Hak artinya perkerjaan atau perkara yang tetap, yang wajib dijaga terus menerus. Lawan hak ialah kewajiban. Seorang ayah wajib membiayai anaknya, dan si anak berhak menerima belanjadari ayahnya. Dan si anak wajb mengkhidmati ayahnya dan si ayah berhak menerima pengkhidmatan itu. Seorang sesama Muslim ada haknya atas diri kita 6 perkara, dan kita memikul kewajiban untuk menunaikan hak itu. Jadi seitap Muslim berhak menerima penyelenggaraan dari sesamanya Muslim dan setiap Muslim wajib menunaikan kewajiban itu.
Sebenarnya hak Muslim atas Muslim lainnya itu bukanlah enam perkara saja, masih banyak lagi yang lain, beratus, beribu. Tetapi karena Raulullah SAW seorang yang bijkasana, tidaklah beliau memborong menerangkannya sekaligus, cukup 6 perkara. Yaitu hak yang berhubung dengan menguatkan tali persaudaraan antara seorang dengan seorang di dalam Islam.
Enam perkara ini saja diterangkan Nabi dahulu, karena ini yang sngat penting dalam pergaulan sehari-hari. Amat ringan, sehingga lantaran ringannya kerapkali diabaikan orang. Dia amat penting, tetapi selalu dilupakan. Sehingga dicari-cari juga apakah sebabnya, maka hati di antara satu sama lain, sesama Islam, seakan-akan tidak ada hubungannya, padahal inilah sebabnya.
Apabila engkau bertemu dengan dia ucapkanlah salam kepadanya.
Bertemu ialah seusai bercerai, dan dituntut juga oleh hadits yang lain supaya diucapkan juga salam seketika akan bercerai-cerai. Ada pula perintah Rasulullah SAW, jika bertemu dengan teman sahabatdi tengah perjalanan, lalu didahulukannya memperkatakan yang lain, sebelum mengucapkan salam, janganlah dijawab. Adakan "disiplin" yang teguh di dalam pergaulan, ucapkan salam itu ialah: Assalamu’alaikum, balaslah dengan Alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, dan seterusnya.
Assalamu’alaikum, bahagialah atasmu! Damailah hidupmu, beruntunglah kamu, di dalam lingkungan salam, dan agama yang berkehendak salam. Lantara ucapan ini terpeliharalah pertalian dalam agam, tali persaudaraan. Dan hapuslah dengan sendirinya dendam dan sakit hati. Hati yang tadinya benci, dengan dipaksa oleh lidah supaya tunduk. Tunduk kepad perdamaian dan kebahagiaan.
Sudah terlalu bagus ucapan itu, sukar tandingannya. Tak perlu lagi kita ganti "dari mana, ke mana", atau "selamat pagi", "selamat malam", "hallo", dan seterusnya, bahkan dipendekkan pula ucapannya "pagi"…,"malam", dan sebagainya.
Apagila dia memanggil, hendaklah perkenankan
Memanggil, karena diambil dari bahasa Arab "da’aka" yaitu "do’a" maka artinya bukan saja memanggil, boleh juga memohon kalau kepada 4JJI dan boleh juga bertanya. Sebab itu kalau teman memanggil nama kita, hendaklah kita jawab atau perkenankan dengan baik.
Atau kita dipersilahkan datang ke rumahnya untuk menghadiri jamuannya hendaklah kita hadiri.
Atau kalau dia menanyakan sesuatu perkara yang musykil baginya, hendaklah kita jawab, sekedar pengetahuan kita.
Kalau kita jawabkan: ”Saya tidak tahu", di dalam perkara yang kita memang tidak tahu, itu pun sudah bernama jawab juga.
Atau dia meminta suatu pertolongan, atau dia meminta suatu barang hak milik kita, karena barang itu kurang perlu bagikita, sedang baginya amat perlu, padahal dia miskin, pun kena juga oleh Hadits tersebut.
Apabila dia meminta nasehat, berilah nasehat.
Nasehat itu banyak macamnya: Nasehat kepada 4JJI dan Rasul dengan mengikut perintahNya. Nasehat kepada Kitab 4JJI dengan menjalankan sepanjang yang tersebut di dalamnya dan nasehat kepada pemuka-pemuka Islam dengan menuruti aturannya. Adapun nasehat yang dituju di sini ialah kepada sesama Islam, yang duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Kalau mereka meminta nashat di dalam suatu perkara, hendaklah diberi nasehat juga. Yaitu menuntunkan kepadanya supaya menempuh jalan yang lurus, yang suci dan jujur, baik perkataannya ataupun perbuatannya sampai kepada perilaku dan kepercayaannya. Kalau condong hendaklah tolon tegakkan, kalau lemah hendaklah tolong kuatkan.
Apabila dia bersin dan dipujinya 4JJI, hendaklah mohonkan rahmat Tuhan untuk dia.
Bersin yaitu keluarnya hawa yang buruk dari dalam badan. Ketika bersin itu tergerak segala urat syaraf, tergerak seluruh badan. Adapun bersin yang menjadi obat, yang dapat mengeluarkan hawa busuk, ialah bilangannya tidak lebih dari 2 atau 3 kali. Kalau lebih telah lebih, itu bukan bersin obat lagi, tetapi sudah bersin penyakir. Kalau terjadi bersin yang sederhana itu, hendaklah orang mengucapkan syukur kepada 4JJI, dengan memujiNya, mengucapkan "Alhamdulillah" segala puji bagi 4JJI. Mendengar ucapan yang demikian, hendalah kita sambut segera, supaya ucapan itu dikuatkan kokohnyam yaitu dengan ucapan: "yarhamukallah" semoga 4JJI selalu memberi rahmat kepadamu. Oleh yang bersin itu, pemberian demikian jangan di "lahap" saja. Balas pula bacaan yang lebih indah : "yahdikumullah wayuslihubaalakum" semoga 4JJI memberimu hidayat pula, dan memperbaiki peri keadaanmu..
Demikianlah pengajaran Nabi SAW tentang kaifiat sambut menyambut budi itu, menurut Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Hurairah.
Apabila dia sakit, hendaklah ziarahi.
menziarahi orang sakit bernama "Iyadah", telah diatur oleh Rasulullah SAW demikian:
Apabila dia meninggal hendaklah antarkan jenazahnya ke kubur.
Mula-mula ketika dia telah menutup mata sehabis kita bacakan kalimat suci itu, hendaklah tutupkan matanya baik-baik, selimuti dengan segala hormat. Lalu diberi nasehat kepada segenap kaum kerabatnya, bahwasanya kematian itu adalah barang yang mesti di tempuh oleh tiap-tiap orang. Sebab itu hendaklah bersabar.
Kaum kerabat dan jiran hendaklah membawakan mkanan ke rumah kerabat si mati. Sebab dia tidak sanggup ke dapur memasak makanan buat mereka sendiri, karena dalam kedukaan.
Setelah itu mulailah urus mayat itu sebaik-baiknya, menurut rukun syarat yan telah ditentukan oleh agama, sejak dari memandikan, mengkafani dan menggalikan kuburnya. Dilarang keras meratap karena kematian itu, ratap yang sampai menganiaya badan, merobek baju di dada, menampar pipi dan lain-lain.
Lalu diusung mayat itu ke kuburnya, dengan jalan yang cepat, janga lambat-lambat, karena demikian Sunnah Nabi. Kata beliau; lebih baik mayat itu cepat dibawa kekuburnya, walaupun dia semata hidupnya orang saleh ataupun fasik. Kalau dia saleh, lekas dia menepati nikmatnya di kubur, dan kalau dia orang fasik, supaya lekas pula isi dunia terhindar daripada marabahayanya.
Waktu itulah dijalankan sepanjang Hadits ini, pergilah segenap kaum muslimin yang tahu akan kematian itu, yang ada hubungan perkenalan dengan dia mengantar bersama-sama; tidak hanya semata-mata yang masuk ke dalam kongsi matinya saja. Karena kebanyakan kita lihat diadakan orang kongsi matian, hanya mengurus orang yang masuk jadi anggota perkumpulan kematian itu saja, yang tidak masuk anggota tidak mau mendekat, dan sengaja tidak diundang orang. Perkumpulan kongsi mati, itu tidaklah perlu, sebab stiap orang Islam, wajib kifayah menguruskan mayatnya kepada segenap orang islam pula. Yang penting bukan perkumpulan kematian, tetapi perkumpulan kehidupan, fardhu kifayah, urusan sekolah, rumah sakit, rumah miskin, bertolong-tolongan atas amar ma’ruf nahi munkar adanya.
taken from : falsafah hidup
written by : Prof.Dr. Hamka
========================================================================
hmm…
tulisan diatas mengingatkan saya…
betapa saya sering lalai menunaikan kewajiban kepada sesama muslim…
semoga bermanfaat…
Subhanakallahumma Wa Bihamdika, Asyhadu An La Ilaha Illa Anta, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika …
========================================================================
Ada kosakata baru yang kini ku pegang erat di hati ini. Sebenarnya kosakata ini, bukanlah kosakata yang "wah"…seperti yang sering digunakan oleh para politikus kita untuk menyampaikan kampanyenya dengan mulut yang berbusa-busa.
sumeleh….
Ya..benar, kata ini yang kini berngiang-ngiang dihati ini. Adalah seorang dosen, sekaligus mentor saya (Pak Heroe) yang menginspirasikan kata ini.
Sumeleh, asal kata dari bahasa jawa: "seleh" diberi sisipan "um" yang berarti kepasrahan diri kepada sang Khalik.
Setelah mencurahkan segenap karya, cipta, dan karsa kita. Dengan wujud kelurusan niat, ikhtiar yang sempurna (menurut kita), dan doa (tentunya). Kita tidak bisa memberi "ultimatum" kepada 4JJI, bahwa kita telah berikhtiar dan berdoa, maka 4JJI "harus" memberi hasil yang sesuai dengan Keinginan kita.
Mari kita renungkan….
Siapa kita? Berhakkah kita untuk mendikte 4JJI?
Berhakkah kita mendikte Sang Pencipta kita yang Maha Kuasa??
jawabannya tentu telah ada di benak kita semua…
Kembali ke kata Sumeleh…
kita sebagai makhluk-Nya…
hanya bisa sumeleh, (atau dalam bahasa arab: Qona’ah)
Qona’ah setelah menyempurnakan ikhtiar.
Karena dengan sumeleh, kita tidak akan menjadi orang yang kecewa…
Sesungguhnya 4JJI Maha Mengetahui apa yang tebaik untuk hambanya…
Boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal sesuatu tersebut baik untuk kita…
Dan boleh jadi kita menyukai sesuatu, padahal sesuatu tersebut buruk untuk kita…
jd sumeleh aj lah…. ^_^
bandung, di suatu pagi yang dingin.
Sebenarnya cerita ini ingin ku tulis sejak dari dulu… Tapi waktu itu, aku belum mampu untuk mencaci maki diriku sendiri ini.
Pagi itu, perutku keroncongan. Perut yang kosong di tambah sengatan dingin yang menusuk rusuk ini, sungguh menjadi nikmat tersendiri buatku. Tanpa pikir panjang, insting manusiaku mengarahkan kaki ini menuju kantin.
Tak seperti biasanya, aku sendirian waktu itu. Sungguh kesendirian itu menjadi sangat bermakna ketika kita bisa menikmati waktu, jauh dari kehidupanku yang sering kuhabiskan untuk mengejar waktu (atau di kejar waktu?). Kupesan sepiring sarapan dengan telur dadar dan sayur,tak lupa sup buah yang menjadi favoritku di waktu pagi.
Aku duduk disebuah bangku yang terletak di pojok kantin itu. Tempat dimana aku bisa puas menyapukan pandanganku ke seluruh sudut kantin. Di salah satu pojok kantin ada sekelompok anak muda (/me uda tua berarti T_T) sedang bersenda gurau, melupakan dingin yang terbawa angin. Di pojok yang lain, aku lihat sepasang kekasih sedang memadu kasih (atau…entahlah namanya…), dengan mesra bercakap, dan tertawa. Tak ingin terlena dengan pemandangan mesra itu, kulanjutkan sapuan pandanganku ini. Dan…sampailah tatapan mataku ini pada sesosok pria yang menyedihkan (menurutku). Pagi-pagi…dengan mata merah, rambut acak-acakan, dan sebatang rokok ditangan tak henti2-nya mengeluarkan asap.
Anganku mulai melayang ke rentang waktu beberapa bulan yang lalu. Dimana aku menjadi seorang bajingan… bajingan yang tak tau diri…bajingan yang tak tau terimakasih… Memang hidup itu hakikatnya adalah menyoal pilih.
Waktu itu..Rokok…menjadi teman setiaku (teman…?? perlu dipertanyakan…) Djarum super selalu terapit di tangan kiriku kemana-pun ku pergi. Ah…sungguh bajingan kamu Tur… Kamu sebenarnya tahu…bapak ibumu itu bekerja keras untuk kamu, untuk pendidikanmu, untuk masa depanmu… Sedangkan kamu disini, sedikit demi sedikit menghancurkan impian orangtuamu atasmu.
Kau bakar uang orang tuamu itu…
Apakah kau sadar…dengan menghisap rokok itu…
sama saja menghisap darah orang tuamu???
(ingkang putro nyuwun jembaripun samudero pangaksami bapak…ibu….)
Akhirnya pagi itu, anganku mendarat lagi di bumi nyata. Pandanganku belum beranjak dari tempat tadi.
Heu..heu…heu…
Jadi begini tho?? keadaanku waktu itu… Kurus Layu…Menyedihkan…!!!
Dapat dipastikan…Ibu akan menangis jika melihat BimaSena-nya ini berubah menjadi Duryadana_kurawa… T_T
Yang lebih aku sesalkan adalah… penyebab dari semua itu…
fikiran di-otakku yang mengganjal…menghimpit…dan terkadang menyakiti…
adalah melulu soal yang sia2 belaka…!!!(aku tak tau…)
Hah…kamu memang Bajingan yang menyedihkan memang…
Nggih…Leres Piweling Romo…
Kulo sampun Mbukti’aken…
Romo kulo nyuwun pangapunten….
Ibu kulo nyuwun pangaksami…
alhamdulillah…4JJI masih sayang kepada hambanya yang dhoif dan kafir ini.
Dia lenyapkan semua yang sia2 belaka itu…
Hancur memang…diriku saat itu…
dan saat itu… tidak menutup kemungkinan…
aku terperosok lebih jauh…
tapi 4JJI mengulurkan tangannya…dan memberikan sadarnya…
Kuputuskan pulang ke semarang waktu itu.
Mengadu dan mengaku semua kepada ibu…
telah terbukti empiris…
nasihat bapak…dalam enam bulan ini…
hmm…mungkin enam bulan ini menjadi school of life ku…
(minjem istilahnya mas Gaw)
insya’4JJI
akan ku buktikan…!!!
mending jadi mantan bajingan… daripada mantan haji…
Gw paling ga suka ama orang yang MUNAFIK…!!!
Covernya aja bagus…
Dalemannya…. Busuk !!!!
teorinya siy… (baca: penginnya)
ga boleh benci orang…
benci kelakuannya saja…
ternyata… SULIT (banget) !!!
/me sampai sekarang belum bisa terima…
sebelum dia jelasin semuanya…
Astaghfirullah…
memang…benar kata pak HamKa
ilmu bukan pakaian, akal bukan baju, bijak bukan di sepatu…