Archive for December, 2006

renungan hidup….

Thursday, December 28th, 2006

Lihat dan perhatikanlah berapa
banyaknya ongkos yang percuma dikeluarkan oleh satu rumah tangga bangsa kita
yang bodoh, sejak seoerang lahir ke dunia sampai matinya, sampai 100 hari
setelah dia masuk kubur.

Seketika anak lahir, perlu di
bacakan doa “selamat”. Cukup umurnya 10 tahun, di khitankan, dengan doa
“selamat” pula. Setelah mulai mengaji Quran, maka jika pindah dari satu surat kepada surat yang
lain, misalnya menyeberang dari surat Wadhdhuha ke Alif Laam Mim, demikian seterusnya, pakai “selamatan” pula. Setelah itu diapun besar, kawinnya
“selamatan”, beranaknya “selamatan”. Diapun mati. Sehari matinya”selamatan”
pula. Sebelum mayat masuk kubur perlu pula lebih dahulu “selamatan” dengan
makan besar. Sampai hari pertama, ksdua, ketiga, ketujuh, keempat puluh,
keseratus! Semuanya memerlukan ongkos yang tidak sedikit, meminta “selamat”
yang membawa celaka.
 

Upacara perkawinan merupakan pesta besar. Orang yang penghasilan hidupnya
100, hendaknya memperlihatkan kepada oranglain, dia sanggup mengadakan pesta
200 melebihi pendapatannya. Orang yang 200 hendak memperlihatkan dia sanggup
300, dan seterusnya. Untuk memperlihatkan itu, maka tidak kaya jenjang
dikeping; tidak emas bungkal diasah. Perlu menggadai gadai. Perlu meminjam
minjam. Perlu pergi kepada tukang menternakan uang, sehingga tidak lepas dari
hutang, bertahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan sampai masuk kubur, tidak
mengapa. Asal terbayar malu yang sekali itu.

 
Menurut keterangan yang kita terima dari orang-orang tua, di kampung,
banyak negeri yang jatuh melarat, kekurangan sawah, sebab sawah pindah ke
tangan orang-orang kaya. Tersebab digadaikan ketika akan menujuh hari, yaitu
pesta kenduri pada hari yang ke tujuh sesudah mayit dikuburkan. Sehingga pada
beberapa negeri banyak sawah itu yang pindah ke tangan bangsa asing.

 

Itulah jenis pertama dari keterbelakangan bangsa kita, yaitu kekolotan pada
tradisi dan karena suka mencari popularitas. Sekarang mari kita pandang pula
golongan yang terlalu modern, yang hendak meniru gerak-gerik Barat dalam segala
tingkak laku.

 
Kenikmatan duduk dalam rumah tangga sendiri sudah tidak terasa. Rumah
tangga tidak lagi menjadi tempat untuk mencari ketenteraman, tetapi menjadi
tempat singgah. Si ayah keluar pergi ke tempat pekerjaan pagi-pagi. Pulangnya
tengah hari sebentar, dan kadang-kadang tidak sempat pulang. Sesudah itu
kembali bekerja sampai pukul lima sore. Malam hari dipakai pakaian yang baru
keluar dari binatu. Dikeluarrkan mobil. Lalu pergi ke ”Club”. Mengobrol dengan
kawan-kawan sampai jauh malam. Si isteri minta diberi hak yang sama dengan
suami, minta sama rata sama rasa. Jangan hanya jadi ratu dapur saja. Sebab itu
diapun hendak keluar malam pula, ada pula urusannya, clubnya, kumpulannya. Maka
anak-anak yang kecil terserahlah didikannya kepada babu, jongos, dan koki. Anak
laki-laki sebab telah besar, pergi plesir dengan kawan-kawannya, atau mencari
kenalan baru dalam kalangan gadis-gadis, sedang anak yang gadis pergi pula
menonton dengan pacarnya yang laki-laki. Demikian kehendak kehidupan di zaman
modern meninggalkan rumah dan mencari kepuasan di luar!

 
Ini yang mereka namai kemajuan, yang menyebabkan mereka merasa adat nenek
moyang, aturan agamanya, dan pribahasa negeri, semaunya itu tidak cocok dengan
perkembangan zaman. Akhirnya, dari selangkah ke selangkah dengan diam-diam
kesengsaraan, kemiskinan, kemenyesalan, hilang kepercayaan dan berbagai
penyakit jiwa menyerang kehidupan. Seorangpun tidak ada yang tahu apa jenis
penyakit yang dideritanya, ketika mereka tidak tahu, sayang sudah terlambat.
Memang tiap-tiap kemajuan itu meminta pengorbanan yang besar.

 
Kalau itu yang dinamai kemajuan, kalau yang bernama kemajuan itu
meruntuhkan rumah tangga, meramaikan kedai kopi, memenuhi gedung-gedung
bioskop, merusakkan akal budi, menghilangkan rasa cemburu dan memusnahkan
keberuntungan dan kebahagiaan rumah tangga, maka jadi setanlah kemajuan itu.

 
Di dalam dongeng bangsa Melayu, ada satu susunan kata yang indah apabila
mengalih ceritera daripada satu peristiwa yang lain. Ucapan itu demikian
bunyinya: “kisah beralih hanya lagi,
sungguh beralih di sana juga” –
Nama
zaman yang berukar, tetapi kebrobrokan masih tetap bahkan berlebih.

 
Kemajuan yang kita cari bukan itu. Kemajuan yang sejati bukan menuju
keruntuhan umat. Bukan memperkuat kuku cengkeraman bangsa asing masuk
jantungnya. Yang seperti itu bukan kemajuan, tapi hanyalah meperturutkan hawa
nafsu dan syahwat, menuruti langkah bangsa yang dipandang maju dan sopan,
karena kerendahan nilai himmah, menurut dengan membuta tuli. Kemajuan yang demikian
hanya menghilangkan perhatian kepada kepentingan keturunan karena tidak dapat
menimbang kesederhanaan kehidupan dengan kegembiraan.

 
Untuk mengobat itu lain tidak hanya satu, yaitu insaf tidaklah segala yang
lama itu buruk dan tidaklah segala yang baru itu bagus. Untuk menjadi
perbandingan cobalah dengarkan lirik lagu-lagu lama yang berisi seni dengan
lagu2 pop zaman sekarang. Lagu lama berisi kehalusan budi. Lagu2 sekarang
kebanyakan diambil dari tari-tarian bangsa biadab di afrika dan budak hitam di
amerika temp dahulu, dengan menggoyang-goyangkan buah dada, memutar pinggul
disertai minuman keras sampai mabuk.

taken from : falsafah hidup
by : Profesor Dr. Hamka
========================================================================
pramuaksara :
cobalah memandang hidup ini dari sudut yang tak biasa, karena dari sudut itu kamu bisa mengerti hal-hal yang menjadi hikmat yang luar biasa.

alarm tubuhku sudah berbunyi…

Thursday, December 21st, 2006

akhirna…
tumbang juga ni tubuh…
emang bagaimanapun juga
tubuh ini butuh tidur…

met istirahat…
moga cepat bisa kembali beraktivitas…^_^

divided by zero T_T…begadang terus….

Tuesday, December 19th, 2006

jam doea lewat lima puluh delapan menit…
lima menit yang lalu aku baru saja mencorat-coret white board (sambil geleng2 kepala)
….sambil memandangi langit-langit lab…ak berpikir keras
ternyata program simulasi pram salah.. T_T
skenarionya salah…sistem yang pram buat kebalik….

makanya hasilnya agak ngaco’…
eh kadang2 divided by zero… T_T sedihna…

semangat yah tur…
km lg berproses…
insya’4JJI….
smua yang km lakuin ga da yang sia-sia…

…kerjain lg…

cinta

Monday, December 18th, 2006

namaku adalah cinta…
aku bersahabat dengan waktu
jika kau ingin memilikiku…
maka bersabarlah…

namaku adalah cinta…
aku enggan meminta…
jika kau ingin menyentuhku
maka memberilah…

cinta dan rindu adalah satu tubuh…
cinta merahasiakan artinya…
sedangkan rindu mendefinisikan cinta….
cinta ibarat samudera…
tempat mengalir semua rindu dari setiap pumbuluh tubuh…

terimakasih ya 4JJI…. ^_^

gelarku : Abu Abdurrahmanir Rahim Maliki Yaumid Dien!!

Saturday, December 16th, 2006

Banyak benar  bukti atas akal orang. Bukti demikiarn hampir serupa dengan firasat, tetapi lebih dapat ditanggung kebenarannya daripada firasat.
Setengah daripada tanda itu adalah kesukaan memilih akhlak yang mulia. Pantangan mengerjakan pekerjaan yang rendah menurut timbangan budiman. Biar perutnya lapar, tak mau membuat malu, walaupun aka diejek.

setengah Hukama telah ditanyai : "Apakah bukti oranga berakal?"
jawab beliau: "Perkataannya tak banyak yang tidak berguna"
Orang bertanya pula: "kalau kita tidak mendengar perkataannya, hanya dari jauh saja terdengar namanya, bagimana pulakah tandanya?"
dijawab beliau: "Dengan tiga perkara, pertama dengan mengenal utusannya. Kedua dengan membaca tulisannya, ketiga dengan menilik hadiah darinya. Utusannya adalah bayang-bayang dirinya, suratnya menunjukkan susunan pikirannya, hadiahnya menunjukkan timbangan. Maka lebih kurangnya ketiga perkara itu, adalah ukuran orangnya".
kata Hukama pula: "Yang sebesar-besar aksi atas akal orang, ialah caranya menghadapi orang lain."
…..

Kejadian tiap hari pun sudah cukup menjadi bukti bagi kita. Sekali saja kita bertemu dengan orang, sudah dapat kita ketahui apakah orang itu bernilai atau tidak.

Oleh sebab itu dengan semata-mata melihat gagah pakaian tidaklah menjadi bukti tentang "isi". Ilmu tidak terletak pada pakaian, akal bukan baju, bijak bukan di sepatu. Orang yang sempurna akal bukanlah disediakan buat menjadi "bintang film". Tidaklah tiap yang putih sudah boleh disebut lilin.

Berkata AL Asma’i: "Saya lihat di negeri Basrah seorang tua, bajunya indah, sikapnya tangkas, dan banyak pengiringnya."
Sebab itu terniatlah oleh saya hendak menguji akalnya, lalu saya tanyai: "Siapakah gelar beliau".
Dia menjawab: "Gelarku, Abu Abdurrahmanir Rahim Maliki Yaumid Dien!"
–> taukan artinya…?? ^_^
Maka kata Al Asma’i: "Saya tertawa dan tahulah saya tingkat akalnya dan bodohnya, tak dapat di pertahankan oleh pakaian dan pengiring".

Tak ubah dengan orang yang membri nama anak si Sutomo, Sukarno, Cokroaminoto dan Abdul Muis, tetapi tidak di berinya didikan. Sehingga nama itu terletak di pelembahan. Ada juga yang sengaja mengubah namanya supaya amat bagus: "Umar bin Abdul Aziz As Aumathrawi gelar Sultan Jurnalis."

Di sebuah kampung ada seorang perempuan menamai anaknya Mustafa Kemal, karena cita-citanya jika anak itu besar kelak akan menyerupai pahlawan Turki Mustafa Kemal pula. Akan tetapi setelah agak besar anak itu tidak disekolahkannya supaya sesuai dengan namanya, bahkan disuruhnya menggembalakan sapi. Pada suatu hari ketika sapi itu masuk ke ladang orang, ibunya memanggil namanya keras-keras: "Mustafa Kemal! Mustafa Kemal!" Orang yang lalu-lintas tentu saja menaruh hormat mendenagar nama yang besar itu, tetapi setelah dipanggil berulang-ulang barulah anak itu menjawab: "Apa!" Sekeras-kerasnya pula. Ibunya menjawab pula: "Sapimu masuk ke ladang orang!"

Jadi walaupun diberi nama siapa, tidaklah nama itu yang mujarab memperbaiki diri, tetapi dirilah yang akan memperbaiki nama.

Karena ceritera itu kita teringat pula suatu ceritera lain yang kita dengar dari mulut ke mulut orang-orang tua, bahwasanya pada satu hari seorang menumpang kereta ap dari Padang ke Padang Panjang denga pakaian yang amat gagah. Labih gagah daripada yang dipakai orang biasa. Memakai dua dasi,d asi panjang dan dasi pendek, bergigi emas, berbaju wol, bersepatu dan meakai baju hitam walaupun hari panas, dan di tangannya….sebuah lampu senter, meskipun hari siang terang benderang. Penumpang yang gagah itu membaca surat-kabar denga asyiknya, ditentangnya denga kacamata yang berpinggir mas itu, tetapi surat kabarnya terbalik.

taken from: Buku "Falsafah Hidup" by Prof. Dr. Hamka
halaman 33,34 subab "alamat"

Sungguh benar, pepatah barat yang menyebutkan "don’t judge a book by it’s cover" sesungguhnya untuk mencari ilmu, dapat kita lakukan dimana saja. Bahkan ayat Alqur’an yang pertama kali turun kepada Muhammad SAW adalah Iqro’. Padahal kita tahu bahwa Muhammad adalah seorang yang Ummiy (buta huruf), sehingga belum ada kitab yang dapat dibaca pada masa itu (lha wong Qur’an aj baru turun)
Terus apa yang 4JJI perintahkan untuk kita baca? 4JJI ingin kita membaca makhluk ciptaannya, untuk mentadaburi…bahwa 4JJI adalah sang Maha Pencipta dengan segala kebesarannya. jika kita cerdas "membaca"…sebenarnya kegiatan apapun yang kita lakukan (yang kital lihat, pegang, cium, pokoknya yang kita rasakan dengan panca indera kita)setiap detiknya di dunia ini adalah ilmu.

Peribahasa bilang: "Untuk mendapatkan perhiasan, carilah di kotak perhiasan..sedangkan untuk mendapatkan kotak perhiasan carilah dia di toko perhiasan"
Pram sendiri kurang sependapat dengan peribahasa diatas. Bukankah untuk mendulang emas, orang rela untuk berbasah-basah mencebur dilumpur?? Bukankah untuk mendapatkan permata orang rela berkotor-kotor menggali lubang kedalam bumi?? Bukankah untuk menjadi perhiasan, emas itu harus disepuh dengan bara api yang membara, untuk kemudian dibentuk dan di tahtai dengan permata yang sudah di proses sebelumnya.
Sungguh, ilmu yang hakiki adalah ilmu yang kita dapatkan dari "membaca" kehidupan itu sendiri. Karena dengan membaca kehidupan, kita lebih berproses mendapatkan ilmu tersebut.

Namun sekarang, tradisi mencari perhiasan ini cenderung kian menjadi instan. Sebut saja kita, STT Telkom adalah salah satu contoh kotak perhiasan, yang didalamnya terdapat perhiasan yang sungguh mahal, namun kita yang berada di dalamnya ini terkadang malas, malu, bahkan tidak mau untuk berproses???

semoga bermanfaat

sabar…

Saturday, December 16th, 2006

sabar ya tur…sabar…
4JJI sedang mengujimu…

semoga semua ini bisa menjadi ladang amal untukmu…
sebagai bekal di akhirat nanti
tempat semua akan berlabuh
di pelabuhan surga-Nya…

amin…

bimo suci

Friday, December 15th, 2006

bimo suci…
bima aka werkudara aka bratasena, adalah salah satu tokoh pewayangan yang penuh akan hikmat (ilmu) kehidupan. malam tadi, pram bersama temen2 UKM Djawa, alhamdulillah di percaya untuk mengisi hiburan keroncong pada acara temu dosen dan mahasiswa jawa.

sebelum pementasan, diadakan acara nonton bareng wayang dengan judul : Bimo suci. pada cerita wayang ini, terkisah seorang tokoh bernama bratasena (bima) yang sedang mencari kebenaran. singkat cerita, salah seorang pandawa ini berguru kepada begawan durna (salah satu bala kurawa) bersama teman-temannya (salah satunya anoman)

setelah berguru kepada durna, bima ingin bertapa untuk mencari kebenaran yang sejati. singkat cerita, bima meminta ijin kepada durna untuk bertapa menuju dalamnya samudera (kawah candra dimuka) untuk mencari kebenaran yang hakiki. durna pun merestui kepergiannya.

namun, teman-teman seperguruannya menghalang-halangi, karena sayang kepada bima (takut kalau-kalau nanti terjadi apa-apa terhadap bratasena). wal  hasil, bertarung lah mereka…terjadi pertempurang sengit…

akhirnya dengan niat dan tekadnya yang sudah bulat, bratasena memenangi pertempuran itu. teman-teman seperguruannya pun akhirnya merelakan kepergian bratasena dengan legowo.

ditengah perjalanan menuju samudera, bima di halang-halangi oleh tiga ekor ular naga yang sangat bersar (di tengah hutan belantara) dan bima pun bertempur melawan ketiga ular naga itu. dengan segenap kemampuannya, bratasena bertempur untuk menaklukan naga2 tersebut, dan akhirnya berhasil memetik kemenangan.

setelah memenangi peperangan melawan naga, bratasena di uji lagi dengan "kehampaan" diri. dia merasa hampa di tengah-tengah perjalanannya ini. tetapi dengan kebulatan tekadnya, bima berhasil mengatasi kehampaan tersebut.
….

akhirnya sampailah si bima ditepi mulut samudera. saat ia ingin menceburkan diri untuk bertapa, bima di uji lagi dengan ketakutannya sendiri. ketakutan akan kematian…dan ketakutan akan kegagalannya. namun, bima memang memiliki tekad yang membaja. dia berhasil menaklukan ketakutan2 tersebut, dan akhirnya menceburlah dia ke dasar samudera untuk bertapa.

setelah beberapa lama bertapa, dia berjumpa dengan seseorang lelaki kecil (dewa ruci). kemudian terjadilah pecakapan yang penuh filsofi berikut ini:
bima :"siapakah kamu pemuda kecil dari dasar samudera?"
dewa ruci : "aku dewa ruci…aku adalah dirimu…"
terus dewa ruci bertanya kepada bima:
dewa ruci: "ada apakah gerangan kamu…sampai ke dasar samudera ini?"
bima menjawab: "aku mencari air suci kehidupan (kebenaran yang hakiki)…"
dewa ruci: "kebenaran yang hakiki sebenarnya sudah ada pada dirimu anakku…, karena dengan niat yang benar dan tekad yang bulat…kemanapun kau melangkah niscaya kamu akan menemukan kebenaran yang hakiki itu"

singkat cerita bima pun memasuki tubuh dewa ruci untuk merasakan kedamaian dan kebenaran yang hakik yang selama ini dia cari…
merasakan kedamaian itu, bima ingin selamanya berada dalam tubuh dewa ruci. namun dewa ruci tidak mengijinkan. dewa ruci berkata: "kamu seakarang ini ibarat mencicipi saja…kamu belum saatnya mengenyam kedamaian ini selamanya..karena masih banyak tugas yang masih harus kamu selesaikan dibumi ini…"

terus keluarlah bima dari tubuh dewa ruci…dan akhirnya dewa ruci yang masuk ke dalam tubuh bima. bima-pun kini menjadi bima suci…
….kemudian bima kembali ke perguruannya….dengan dijemput oleh durna.

kemudian pak Budi Praptono, mengupas philosphi cerita wayang ini:
intinya adalah, setiap perbuatan kita ini tergantung pada niat awal kita. setelah niat, yang kita perlukan adalah keyakinan dan kebulatan tekad untuk melaksanakan niat tersebut.
dalam melaksanakan niat itu, banyak sekali hambatan dan rintangan yang mesti kita hadapi. rintangan itu bisa berasal dari kerabat dekat kita sendiri, seperti keluarga, teman, saudara, bahkan orangtua. (diwakili oleh cerita perang antara bratasena dengan teman-teman seperguruannya)
kemudian hambatan juga bisa berasal dari lingkungan. lingkungan yang bisa menghambat ikhtiar kita untuk mencapai tujuan kita. kita harus dapat menaklukan lingkungan kita, agar kita tidak terpengaruhi oleh lingkungan.(diwakil dengan cerita perang bratasena melawan tiga ekor ular)
setelah menaklukan semua hambatan dari luar diri, kita juga akan di uji dengan kehampaan diri. seolah-olah apa yang kita lakukan selama ini tiada artinya…(pram juga pernah mengalami hal ini…^_^) dan dengan kebulatan tekadlah kita bisa mengatasinya. (bratasena juga mengalami kehampaan diri)
kemudian, godaan terakhir adalah hawa nafsu kita sendiri. ketakutan, panjang angan, dan nafsu memang seringkali dapat menjerumuskan kita. jadi kita haru dapat mengendalikan hawa nafsu kita untuk mencapai keberhasilan. (bratasena juga mengalami ketakutan saat sebelum, menyeburkan diri kedalam samudera untuk bertapa)
jika kita menginginkan kehidupan setelah mati…maka kita harus bersedia untuk "mati di dalam hidup" artinya mengendalikan hawa nafsu duniawi.
kata pak Budi Praptono: 4JJI itu Maha Pencemburu, 4JJI tidak mau di madu…
jadi jangan sekali-kali kita memadu 4JJI dengan harta dunia.

mati ini di sini adalah menyikapi dunia ini sebagai titipan yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban kelak…bukan berarti kita meninggalkan dunia…
tetapi mencari dunia untuk sarana kita mencari bekal di akhirat kelak…
yaitu untuk mencari ridho dan rahmat 4JJI…

caranya: harta, anak dan keluarga kita ini adalah titipan 4JJI, untuk menyenangkan "menitipi" maka kita harus dapat amanah terhadap titipan yang diberikan kepada kita. secara kasarnya, untuk menyenangkan yang Menitipi kita harus bisa menyenangkan apa yang dititipkan kepada kita. Jadi, segala sesuatu yang kita lakukan tergantung niat kita. (jangan memenuhi hati ini dengan harta dunia…niatkanlah duniamu untuk mencari bekal di akhirat nanti… ^_^)

falsafah yang dapat di ambil adalah: jika kita yakin akan sesuatu, maka lakukanlah, bulatkan tekad, kemudian sempurnakan ikhtiar. Niscaya kemanapun kita berjalan, 4JJI akan memberi petunjuk kepada kita, dan akhirnya mencapai kebenaran yang hakiki.

semoga bermanfaat…

membaca hati

Friday, December 15th, 2006

membaca hati itu seperti memecah teka-teki
butuh waktu…
dan tak boleh terburu-buru…

kadang hati hijau dan teduh
penuh rindang kasih sayang…
dan indahnya tenang

namun
hati juga kadang gersang
penuh dengan api dendam
panas membakar…
hingga berbuah arang…

hmm..
pandai pandailah kita membaca hati…
karena dia lah yang menentukan..
baik dan busuknya kita…

cinta yang bersahaja….(from prie GS..)

Monday, December 11th, 2006

aku ingin mencintaimu dengan cara yang bersahaja….
ini bukan karena aku tidak mencintaimu,…
melainkan aku lebih takut pada bahaya cinta.

semua ini karena
pertama,untuk kepentinganku sendiri…
kedua, untuk kepentinganmu…
dan ketiga, untuk kepentingan kita bersama….

….untuk kepentingaku,…
karena jika cintaku kandas, akulah pihak yang paling sakit.
karena tak ada jaminan bahwa yang kucintai selalu mencitaiku.

….untuk kepentinganmu,…
karena kesakitanku yang sangat, pasti akan membebani hidupmu.
padahal makin besar cintaku padamu, makin besar risiko kesakitanku…
dan makin besar kesakitanku akan makin besar risiko kesakitanmu akibat kesakitanku

….untuk kepentingan kita, karena sakitku, mau tidak mau akan menjadi sakitmu.
jadi semakin besar kecintaanku, akan makin besar risiko kesakitan kita bersama.

ini nasihat buat ku dan buat calon bidadariku nanti… ^_^

kalong…

Saturday, December 9th, 2006

sudah dua hari ini aku tidak tidur di malam hari, tidur pagi abis shubuh..bangung antara jam 9 sampai jam 11.

ya 4JJI jagalah semangat ku ini..
bakarlah bara di dada ini, untuk menyelesaikan segala permasalahan di dunia ini
demi meraih ridho dan rahmat-Mu

Amin..!!!