Kemarin hari rabu aku sama seorang temenku pergi ke ibukota, untuk bersiaturrahmi kepada kakak-kakak kelas yang sudah kerja di sana, sekalian nanti kalau aku ada keperluan ke jakarta sudah tahu kemana tempat untuk menuju ^_^. Sebernarnya ada misi khusus juga menyangkut kedatanganku ke jakarta ini, yaitu untuk menindaklanjuti rencana project…semoga aja berhasil dengan baik.
Rabu malam sekitar jam setengah sebelas, kami (aku dan temanku) sampai di daerah cilandak, tepatnya warung jati yaitu menuju ke alamat kosan Natha’ salah seorang kakak kelas yang kini sudah bekerja di salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Setelah melalui proses yang lumayan panjang, tanya kesana kemari, akhirnya kosan si Natha’ kami temukan.
Singkat cerita, kami beristirahat di kosan itu sampai keesokan hari tiba. Karena sangat lelahnya, sehabis shubuh aku kembali merebahkan punggung di sofa depan ruang lobi lantai dua kosan itu, dan akhirnya terbangun sekitar jam 10.00. Kemudian karena merasa panas, aku langsung mandi untuk menghilangkan keringat, tapi apa lacur…ternyata jakarta bersuhu begitu panasnya sehingga sedetik setelah aku melepaskan gayung, tubuh ini kontan merasakan panas lagi, dan keringat pun mulai menetes dari setiap inchi tubuh ini.
Setelah sholat dzhuhur di masjid, kami makan di warung sebelah kosan. Kemudian terpikir untuk jalan-jalan sebentar, he..he…he…ternyata baru sekitar lima menit bertemu dengan matahari jakarta, rambut ini terasa terbakar semua, otak ini serasa mendidih, rasa pusing pun menjalar mengakar di kepala ini. Yah…akhirnya kami menyerah tanpa syarat pada panas itu, sejurus kemudian kami sudah mundur ke garis pertahanan (kosan Natha’)
Akhirnya kami putuskan untuk menonton DVD sembari tiduran dan bincang-bincang di ruang tamu lantai dua. Di sinilah aku mulai mendapatkan reportase langsung dari narasumber tentang kejamnya dunia TKI… Waktu itu jarum jam menunjuk pada angka setengah dua. Temanku memutuskan untuk membaca buku yang dia bawa dari bandung di teras depan lantai dua, sembari ‘ngisis’. Waktu itu DVD sudah selesai di tonton, beralihlah kita ke TV (stasiun TV di jakarta bejibun banyaknya).
Sembari nonton TV ku mulailah pembicaraan dengan seorang teman baru (tadi pagi baru kenalan inisalnya "S", asal jawatimur). "Jadi gimana mas ceritanya…kok bisa ketemu sama istri mas ?" …terus dia pun menjawab kisah cinta-nya dari A-Z…dan banyak memberi pelajaran pada aku yang boleh dibilang masih hijau dalam masalah percintaan… dari cerita kejadian pertama kali bertemu, terus terpisah selama lima tahun tanpa ada kabar satupun, terus bertemu kembali, kemudian proses pranikah yang sungguh sangat seru…!!! pokoknya salutlah sama mas "S" ini. Waktu itu aku sampai mengacungkan dua jempolku padanya.
Nah, pada masa lima tahun berpisah itu mas "S" memutuskan untuk merantau ke Malaysia menjadi TKI. Di sinilah cerita reportase ala guntur dimulai. Dengan bermodalkan uang 5 juta hasil menjual raja-kaya dan sepetak tanah orangtua, akhirnya berangkatlah mas "S" ini ke Malaysia. Transit di Bandara cengkareng, kemudian naik pesawat munuju ke Malaysia….eitss bentar-bentar, bukan Malaysia, tetapi menuju Batam. Lhoh kok ke Batam, bukannya tadi dibilang mau jadi TKI di Malaysia? Ternyata usut punya usut, si mas "S" ini berangkat menjadi TKII (alias TKI Ilegal) atau kalau orang malaysia bilang "orang kosong". Akhirnya mau tidak mau, mereka di inapkan di Batam selama satu minggu, menanti saat yang "tepat" untuk berangkat ke malaysia melalui jalur laut.
Selama satu minggu di Batam, terjalinlah rasa persaudaraan yang kuat antar peserta TKII ini. Dari keterangan mas "S" ini, kurang lebih ada sekitar 15 orang (guntur lupa jumlahnya), 5 orang dari jawa, dan sekitar 10 orang dari Flores. Lima orang jawa ini saling bertukar cerita tentang keluarga, dan motivasinya untuk berangkat ke Malaysia menjadi TKI ini. Mas "S" ini pada waktu itu berusia sekitar 21 tahun, sedangkan kedua rekannya berusia 30 tahun akhir, sudah berkeluarga dan memilik anak. Salah satunya bercerita pernah tertipu oleh calo TKI Ilegal dan di deportase karena tertangkap oleh polisi Malaysia. "Untuk itu sekarang saya mau mengeluarkan uang lebih untuk menjadi TKI yang resmi"aku dia… (kasihan bapak ini…sudah pernah tertipu, kini tertipu lagi…tetapi sebenarnya jasa TKI yang sekarang ini tidak sepenuhnya ilegal, katanya paspor yang digunakan saat itu saja yang bukan ditujukan untuk bekerja…wallahua’lam)
Setelah selama seminggu menunggu di Batam, di dalam kamar yang kecil, berjejalan bersama lima belas TKI, sungguh sangat menyiksa. Akhirnya pagi-pagi pukul 3, mereka mau di berangkatkan dengan speedboot, namun ternyata tidak jadi karena pihak polisi malaysia sudah mengetahui rencana mereka. Sejurus kemudian, sekitar habis subuh pukul setengah lima…mereka di bangunkan lagi dan di berangkatkan tepat pukul lima. Dengan sembunyi-sembunyi mereka menyusuri lautan di sekitar batam, singapura, dan malaysia. Namun apa boleh di kata, polisi Malaysia telah menunggu di bibir pantai. Terpaksa…sudah setengah jalan, para TKI ini dipaksa untuk menyebur ke laut dan berenang ke pantai (daripada tertangkap oleh polisi). Dengan barang bawaan yang berat, mereka sibuk berjuang melawan arus ombak laut dan angin yang berhembus kencang.
….Namun, ada dua orang yang saat itu tidak hanya berjuang melawan arus laut, melainkan berjuan melawan maut… Mas "S" hanya bisa melihat mereka berdua (teman cerita yang sudah berusia dan meninggalkan anak-anaknya) meronta di tengah kedalaman lautan, dalam benak hati mas "S" saat itu ingin menolong, tapi dia takut tidak bisa membawa tiga tubuh dengan beban barang bawaannya masing-masing. Akhirnya, dengan airmata menetes mas "S" melihat tangan mereka berdua mulai lemas meronta, dan akhirnya tenggelam perlahan. Sungguh adegan yang sangat memilukan, apalagi mengingat anak dan istri mereka di kampung menanti dengan penuh harap.
Alhamdulillah akhirnya mas "S" bersama kedua teman jawanya berhasil mencapai pantai. Tapi penderitaan mereka belum berakhir, mereka masih harus berurusan dengan polisi malaysia…dan akhirnya mereka di tangkap dan disekap di barak-barak pinggir pantai seperti layaknya orang-orang pesakitan. Menurut kesaksian mas "S" ada seorang temannya yang dipukuli polisi Malaysia karena menyimpan uang di saku dalamnya tanpa bilang kepada polisi tersebut. Ada seorang polisi yang sungguh sangat kejam…namanya Hasan…sampai-sampai mas "S" ini menyebut: "nek aku ketemu karo ndeke meneh…wis bakalan tak pateni, rak peduli aku!!!" (kalau aku bertemu dengan dia lagi, pasti akan aku bunuh dia, tidak perduli aku…) Sungguh betapa kejamnya polisi itu…sampai temannya itu setengah mati di siksanya.
Kurang lebih seminggu ketiga orang tersebut disekap dibarak tersebut. Selama seminggu itu, mereka di beri makan nasi dengan lauk ikan teri saja. Yang memasak adalah seorang wanita keturunan medan, mas "S" berkenalan dengan orang itu dan mencari-cari informasi, berikut petikan percakapan mereka:
mas "S" : "kak, kakak sudah lama ya di malaysia?"
wanita itu: "iya, awak sudah lame di malaysie, kire-kire delapan taon…"
mas"S" : "kak, kira-kira susah tidak mencari pekerjaan di malaysia ini? kakak ada pekerjaan tidakuntuk saya?"
wanita itu : "wah, susah kerja di jiran ni, awak saje jadi hostes di kelab malam, terus kalau siang kerja masak di sini"
mas"S" : "terus bagaimana kak cara saya mendapatkan pekerjaan di sini…"
percakapan pun berjalan seterusnya….
kemudian diketahui bahwa wanita itu ternyata istri salah seorang polisi malaysia yang bertugas di barak tersebut. kalau malam dia bekerja sebagai pelayan di salah satu kelab malam di dekat situ, dan kalau siang dia disuruh bantu-bantu memasak oleh suaminya di komplek barak tersebut.
Singkat cerita seminggu-pun berlalu. Ada seorang jawa malaysia yang mendatangi mas "S" bertanya kepadanya :
orang jawa malaysia : "kamu mau kerja?"
mas "S" : "mau pak, kerja apa saja yang penting halah."…mas "S" sungguh sangat antusias menyambut kesempatan tersebut.
orang jawa malaysia : "ya sudah, kamu ikut saya kerja di bangunan tapi kamu harus bayar ke saya 800 ringgit, soalnya untuk membawa kamu saya harus membayar ke polisi-polisi itu 800 ringgit"
setelah berpikir sejenak, walaupun saat itu mas "S" tidak tahu seberapa banyak 800 ringgit itu (sekitar 2 juta rupiah) dia setuju dengan perjanjian itu.
mas "S" : "baik pak saya setuju bekerja dengan bapak. terimakasih"
akhirnya mas "S" bekerja bersama salah satu oranga jawa lainnya di bangunan dengan upah 25 ringgit perhari. satu lagi temannya bekerja di tempat lain. Menurut kesaksian mas "S", di Malaysia makanan sangatlah murah, dalam sebulan uang 200 ringgit sudah dapat mencukupi kebutuhan makannya (padahal kalau di rupiahkan sekitar 500ribu…^_^)
Akhirnya setelah bekerja sekitar tiga bulan, barulah dia bisa melunasi utangnya kepada si orang jawa malaysia itu. Dan gajinya-pun mulai naik setelah dia bekerja menjadi buruh bangunan selama setahun, menjadi 30 ringgit perhari. setelah sekitar dua tahun, dia akhirnya sanggup membeli HP untuk berkomunikasi dengan keluarga di kampung. "HP sing gedhene sak gembes wadah ngombe chah Teka" kata Mas "S" dengan bangga, waktu itu SIM card harganya masih 200 ribu.
Kemudian mas "S" juga berhasil membiayai kelurganya khususnya kedua adik perempuannya sampai ke jenjang SMEA. juga mengirim sejumlah uang kepada orang tuanya di kampung untuk kebutuhan sehari-hari, dan sebagai tabungan. Setelah tiga tahun merantau di malaysia, dan memiliki cukup uang untuk membeli tiket pulang pergi indo malaysia, juga sedikit uang untuk hidup di indo selama satu sampai dua bulan akhirnya dia memutuskan pulang kampung.
…setelah pulang kampung…apa lacur!! orangtuanya cerita, bahwa mereka telah ditipu sepuluh juta oleh oknum yang mengaku dari Goal Kuis. Katanya Goal kuis itu menawarkan hadiah motor untuk setiap deposit lima juta. Kebetulan saat itu di rumah ada uang sepuluh juta, otomatis namanya kesempatan yang bagus (menurut orang tuanya mas "S" saat itu) mereka mendepositkan seluruh uangnya biar bisa mendapatkan dua buah motor. Tapi…apa boleh dikata, uang mereka raib entah kemana…mereka tertipu mentah-mentah!!! Bukan motor yang didapat…uang-pun lenyap tak berbekas.
Mengetahui kenyataan itu, mas "S" sungguh sangat kecewa kepada keluarganya. Dia merasa kerja kerasnya di Malaysia selama ini di sia-siakan oleh keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Malaysia untuk mencari "ganti" uang 10 juta yang raib itu. Dalam satu bulan itu dia sibuk mengurus paspor, visa dan semua keperluan untuk kembali ke malaysia menjadi TKI yang legal. Setelah seluruh keperluan terpenuhi, mas "S"-pun kembali ke Malaysia untuk mengadu nasibnya. Alhamdulillah, rejeki-nya di sana mengalir lancar. Namun ada perasaan dalam hati mas "S" ini yang membuat dirinya merasa malas bekerja lg di Malaysia. Dia merasa kerja kerasnya di negeri orang ini sia-sia jika keluarga-nya di kampung tidak bisa memanfaatkan kepercayaan unuk menjaga uang yang telah dia hasilkan (menurut pengalaman yang telah lalu..) Akhirnya perasaan itu berbuah sikap malas yang berlarut-larut dan akhirnya setelah dua tahun di Malaysia, pulanglah dia ke kampung.
Setelah pulang kampung, sikap mas "S"-pun berubah kepada keluarganya. Dia sangat cuek kepada keluarganya, kemudian hampir tiap hari pergi sore pulang pagi untuk balapan motor. Motor supra miliknya pun sudah di rombak habis untuk memenuhi hawa panas berbalapan tersebut. Berkali-kali dia jatuh mengalami kecelakaan, namun dia tidak kapok untuk melakukan balapan itu dan menghamburkan uang untuk merombak motornya.
Namun…akhirnya dia sadar…untuk apa dia melakukan semua ini?? menghamburkan uang sia-sia… tanpa ada guna…sesal-pun datang walaupun selalu terlambat. Namun sesal itu menumbuhkan kesadaran dan pertobatan yang sungguh luar biasa.
Kini mas "S" sudah memiliki rumah tangga sendiri…istrinya adalah lulusan salah satu sekolah tinggi administrasi negara di jakarta. Kini istrinya sedang menjalani magang di salah satu kantor pelayanan milik pemerintah di daerah warung jati. Sedangkan mas "S" sendiri kini menjadi peternak ikan yang cukup berhasil.
SALUTT kepada mas "S"…!!! terimakasih telah mau berbagi cerita ini kepada guntur ^_^
Satu hikmah yang bisa kita ambil dari cerita ini…pengalaman itu adalah guru yang paling baik, yang memberikan ilmu melalui hikamahnya. Tapi jangan sampai kita terjebak kepada pengalaman yang salah…ibarat guru…jika guru itu salah, jangan kau pegang ilmu yang berasal darinya.
semoga bermanfaat…!!!