ngemeng2 ama pak Basuki Yusuf Iskandar…(Dirjen Postel..)
Friday, September 22nd, 2006Hari ini Jumat 22 September 2006, akhirna aku bisa "NGEMENG" ke orang no.1 Dirjen Postel + Ketua BRTI yang notabene punya ‘kekuasaan’ sebagai regulator Telekomunikasi Indonesia yang semakin ke sini semakin bagus (kulitnya…) tapi secara penguasaan teknologi dan produksi…kita tidak ada perkembangan (bahkan lebih mundur daripada dulu pada tahun 90an…isitlahnya raksasa yang keropos tulangnya….T_T)
Tentu ada terbesit pertanyaan, mengapa Pak Bas (panggilan akrab beliau..) rela menyempatkan waktunya yang sangat padat kegiatan untuk menapakkan kakinya di STT Telkom yang katanya "Mewah" alias mepet sawah? Pada tanggal 20-22 September ini STT Telkom menyelenggarakan ICTel (Indonesia Conference on Telecommuncation) yang di hadiri oleh pembicara-pembicara dari Operator-operator Telekomunikasi Indonesia (Telkom, Telkomsel, Indosat, XL..ga’ kliatan), Vendor-vendor Telekomunikasi (Siemens, Motorola, ZTE, Samsung, Ericsson ma Nokia ko’ ga hadir yak..^_^), terus Menristek, dan Dirjen Postel…(dll..) ada juga kuliah umum dari Profesor-profesor dari NTT, ITB, ma STT sendiri.
Kebetulan pada hari ini, giliran Pak Bas (Dirjen Postel) menyampaikan seminar yang mengulas tentang Regulasi Telekomunikasi Indonesia. Sangat menarik mencermati Regulasi Telekomunikasi Indonesia yang Carut Marut…(mnurutku…). Pada Seminar tersebut, beliau bercerita tentang 3 sisi yang sangat berpengaruh pada market Telekomunikasi di Indonesia yaitu: Penyedia Layanan, User yang berkontribusi pada Demand, dan Market (tempat bertemunya Penyedia layanan dan User). Dari ketiga sisi tersebut ada Goal-goal yang sangat menarik dan menggelitik untuk di bahas.
Salah satunya adalah : Layanan yang semakin berkualitas dengan harga yang semakin murah. Beliau mengakui, bahwa tujuan ini sangat mustahil dicapai jika kita berkecimpung di bidang lain selain telekomunikasi. Namun Beliau juga memiliki dasar mengapa "Aim" diatas bukanlah suatu tujuan yang mustahil. Hal ini dikarenakan, Telekomunikasi adalah suatu Industri yang berbasiskan teknologi dan Ilmu pengetahuan. Semakin tinggi penguasaan suatu bangsa terhadap Teknologi dan Ilmu Pengetahuan, maka Industri Telekomunikasi akan semakin efisien dan bukan mustahil untuk meningkatkan kualitas layanan Telekomunikasi sekaligus menekan Cost (karena semakin tinggi Teknologi maka akan semakin efektif penggunaan resource yang ada sehingga akan lebih murah)
Kemudian ada Statement beliau yang kebetulan sejalan dengan pemikiran saya selama ini. Yaitu Operator-operator di Indonesia, selama ini hanya berfokus untuk berdagang saja…beli Infrastruktur dari Vendor asing, buka tender, tinggal ongkang-ongkang bentar…sembari nungguin jaringan sudah selesai di gelar. terus bikin konsep marketing, buat brand produk…jualan. titik. udah selesai gitu doang!!! Paling banter Engineer kita tu cumna bisa Operasional ma maintenance…bahkan kebanyakan Engineer operator tu yang standby di BSS, cuman di kasi tugas monitoring. ntar kalo ada trouble…tinggal nelepon vendor buat ngebenerin…nah kalo kaya gitu ga usah jd sarjana aj..jg bisa.
Benar kata pak Bas. Industri telekomunikasi di Indonesia ini tidak seiring dengan semangat Perguruan Tinggi untuk mengadakan Riset. Bahkan secara ekstrim beliau bilang: semua ilmu yang dipelajari 4 tahun di bangku kuliah, fade away semua…karena di Industri yang sekarang cuman market oriented, maka ilmu teknik itu tidak lagi terasah dengan baik. wal hasil…gmn nasib Indonesia mendatang..kalau sistem yang bekerja tetap seperti ini?
nah pada Sesi Pertanyaan, guntur sempat melemparkan pertanyaan kepada beliu… (waktu itu ada tiga penanya…kebetulan guntur yang terakhir)
ada dua point yang ingin guntur tanyakan saat itu:
1. menyinggung tentang statement bapak tadi…ada ga’ pak roadmap dirjen postel untuk merubah keadaan Industri Indonesia…sehingga dapat mensinkronkan antara dunia pendidikan dan dunia Industri?
waktu itu beliau menjawab…Roadmap ke arah itu memang ada…namun memerlukan waktu yang tidak sedikit (typical jawaban negarawan..^_^). Dirjen Postel sudah mempunyai rencana untuk membuat suatu Innovation Consorsium yang di pilari oleh tiga tiang utama, yaitu Akademisi, Industri dan Negara. Dengan adanya wadah ini, diharapkan pelitian yang dilakukan di lingkungan institusi akademis tidaklah hanya menjadi sebatas tumpukkan buku saja. Karena dengan adanya negara yang mendorong Industri untuk bekerjasama dengan Institusi pendidikan hal ini akan dapat melahirkan kerjasama sinergis antara lingkungan Akademisi dan Industri.Riset tanpa adanya dukungan dana adalah hal yang bisa dibilang ‘mustahil’, makanya jika riset ini ada bau-bau uangnya…Industri pasti mau bekerjasama dan mengalirkan dananya.
Bahkan tidak menutup kemungkinan kita akan dapat menyusun Standarisasi sendiri. Dan menjadi salah satu produsen Telekomunikasi (baik software maupun hardware)
sbenerna waktu itu guntur mo nanya…
kapan tuh pak rencananya mw di realisasikan???….eh waktunya uda habis…
malahan pertanyaan guntur yang kedua ga sempet dijawab….
ya wis…
semoga aja cepat terlasana…rencana-rencana dirjen postel ini…
sehingga Indonesia tercinta ini bisa bangkit menjadi bangsa yang lebih maju…di segala bidang kehidupan….amin…